Garut, 1 Juli 2026 – Di tengah tantangan ekonomi global dan perubahan iklim yang terus menguji ketahanan pangan dunia, sebuah kabar menggembirakan datang dari lereng pegunungan Drajat Pass, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di lahan kelompok tani binaan Citadesa Nusantara, semangat gotong royong, kerja keras, dan kecintaan pada tanah air melahirkan pesan besar: Indonesia bisa menjadi bangsa yang digdaya jika desa-desa bergerak dan petani dimuliakan.

Pagi itu, hamparan lahan pertanian dipenuhi aktivitas penuh harapan. Ratusan bibit kopi ditanam sebagai investasi masa depan, kol ditanam untuk menjaga kesinambungan produksi pangan, dan panen raya kentang menjadi puncak syukur atas hasil kerja bersama. Dari lahan seluas 3/4 hektar, para petani berhasil memanen 10 ton kentang, sebuah capaian yang menunjukkan bahwa produktivitas tinggi dapat lahir dari pengelolaan yang serius, disiplin, dan berbasis kebersamaan. Sementara itu, total lahan binaan yang dikelola mencapai 4 hektar, menjadi pusat pertanian produktif yang terus berkembang.

Keberhasilan ini bukan sekadar angka produksi. Ini adalah cerita tentang desa yang bangkit. Ketika banyak orang memandang kemajuan hanya lahir dari kota-kota besar, Drajat Pass justru memperlihatkan bahwa kekuatan Indonesia berakar dari tanah desa. Di sinilah pangan ditanam, air dijaga, udara dipelihara, dan nilai-nilai gotong royong diwariskan. Desa bukan halaman belakang pembangunan, melainkan fondasi utama kedaulatan bangsa.

Ustaz Asep, Ketua Kelompok Tani, menyampaikan pesan yang menggugah semangat para petani dan generasi muda.

“Hari ini kita tidak hanya memanen kentang, tetapi memanen keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Tanah yang dirawat dengan ilmu, doa, dan kerja keras akan memberi kehidupan. Petani adalah penjaga masa depan bangsa. Jika desa kuat, pangan kuat. Jika pangan kuat, Indonesia akan tegak dan dihormati.”

Ia menegaskan bahwa pertanian bukan pekerjaan yang tertinggal, melainkan profesi yang menentukan keberlangsungan negara. Menurutnya, generasi muda harus kembali melihat pertanian sebagai jalan pengabdian dan kemajuan.

Sementara itu, Abdul Latif, Ketua Citadesa Nusantara, menyebut kegiatan ini sebagai gerakan membangun Indonesia dari akar rumput.

“Kami percaya Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar hanya karena gedung tinggi dan teknologi canggih. Indonesia akan benar-benar digdaya ketika desa-desa produktif, petani sejahtera, pemuda mau turun ke lapangan, dan masyarakat saling menguatkan. Panen 10 ton ini adalah bukti bahwa desa mampu menghasilkan, bukan hanya meminta.”

Ia menambahkan bahwa penanaman ratusan bibit kopi adalah simbol keberlanjutan. Hasil hari ini dinikmati bersama, sementara pohon kopi yang ditanam akan menjadi warisan ekonomi bagi tahun-tahun mendatang. Inilah cara desa membangun peradaban: berpikir untuk hari ini sekaligus menyiapkan masa depan.

Suasana panen raya berlangsung penuh optimisme. Para petani memanen kentang dengan wajah berseri, anak-anak desa ikut menyaksikan proses panen, dan para pemuda membantu penanaman bibit kopi di lereng yang hijau. Tidak ada kemewahan, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga: harapan yang tumbuh dari tanah sendiri.

Drajat Pass hari ini mengirim pesan kepada Indonesia: ketahanan pangan tidak lahir dari pidato semata, tetapi dari tangan-tangan petani yang bekerja sejak fajar. Kemandirian bangsa tidak dibangun oleh segelintir orang, melainkan oleh jutaan desa yang hidup, produktif, dan bermartabat.

Di akhir kegiatan, doa bersama dipanjatkan agar hasil panen membawa keberkahan bagi keluarga petani, memperkuat ekonomi desa, dan menjadi inspirasi bagi daerah lain di seluruh Nusantara.

Karena sesungguhnya, Indonesia yang digdaya bukan hanya Indonesia yang kuat di kota-kota besar, tetapi Indonesia yang mampu membuat desa-desa tersenyum, petani bangga, dan pangan tumbuh subur di tanah sendiri.

Dari Drajat Pass Garut, sebuah pesan bergema untuk seluruh negeri:

“Bangsa yang besar dibangun dari desa yang berdaya, petani yang sejahtera, dan gotong royong yang tidak pernah padam.”

Saya lebih suka respons ini