Oleh: Berry Kurniawan
Dewan Pembina Generasi Muda Indonesia Raya
Turki, Pakistan, dan Arab Saudi sedang menunjukkan satu hal penting, di tengah dunia yang makin penuh ketidakpastian, negara tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Mereka membangun kedekatan strategis dan memperkuat posisi melalui kerja sama. Indonesia tidak harus meniru model tersebut. Jalan Indonesia bisa berbeda, membangun daya pengaruh bersama melalui ASEAN.
Politik bebas aktif memberi Indonesia ruang untuk berteman dengan banyak pihak tanpa harus menjadi bagian dari blok tertentu. Kekuatan kita justru bisa dibangun lewat jaringan, diplomasi yang aktif, kerja sama ekonomi, konektivitas, kebudayaan, pendidikan, dan dialog keamanan. Presiden Prabowo sendiri kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak memihak pada kekuatan tertentu dan tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif.
Karena itu, ASEAN jangan hanya dilihat sebagai forum pertemuan para pemimpin. ASEAN harus menjadi kekuatan kolektif Asia Tenggara yang mampu berbicara lebih kuat ketika menghadapi persoalan global. Indonesia dapat mengambil peran sebagai penghubung, bukan pemihak. sebagai jembatan antara Indo-Pasifik, Asia, dan dunia Islam. serta sebagai negara yang membuka ruang dialog ketika banyak pihak memilih berhadapan.
Kedatangan para pemimpin negara ASEAN ke Indonesia semoga bukan sekadar agenda diplomasi, tetapi menjadi momentum untuk menjawab tantangan kawasan: menjaga perdamaian, memperkuat ekonomi, memperluas kerja sama, dan memastikan ASEAN tetap punya suara di tengah perubahan dunia. Indonesia memiliki modal untuk memainkan peran itu karena negara-negara ASEAN sendiri terus didorong untuk menjaga persatuan dan sentralitas kawasan.
Pada akhirnya, bebas aktif bukan berarti berdiri sendirian. Bebas aktif berarti bebas menentukan sikap, tetapi aktif membangun sebanyak mungkin jembatan kerja sama. Kalau Turki, Pakistan, dan Arab Saudi sedang memperkuat daya tangkal melalui kedekatan strategis, Indonesia bisa memperkuat daya pengaruh melalui ASEAN.
Dan mungkin inilah kekuatan Indonesia ke depan, bukan menjadi negara yang paling keras suaranya, tetapi menjadi negara yang mampu membuat semakin banyak negara mau duduk bersama, berbicara bersama, dan mencari jalan keluar bersama.
