Teheran – Melansir dari The Jerusalem Post, Jumat, 24 Juli 2026, Al-Zaidi juga bertemu Brigjen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Pemerintah Iran dilaporkan menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat melalui jalur diplomatik. Proposal tersebut dibawa oleh Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, saat melakukan kunjungan resmi ke Teheran sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan laporan sejumlah media internasional yang mengutip pejabat Iran dan Irak, pemerintah Iran menilai usulan tersebut belum mampu menjawab persoalan mendasar yang menjadi perhatian Teheran. Salah satunya adalah tidak adanya kejelasan mengenai pengaturan dan pengawasan di kawasan strategis Selat Hormuz, jalur pelayaran yang memiliki peran penting bagi perdagangan energi dunia.

Kunjungan Al-Zaidi ke Teheran berlangsung setelah sebelumnya ia melakukan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Washington. Selama berada di ibu kota Iran, Al-Zaidi bertemu dengan Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi untuk membahas perkembangan situasi keamanan regional.

Dalam pertemuan tersebut, Al-Zaidi disebut menyampaikan hasil komunikasinya dengan pemerintah Amerika Serikat kepada para pemimpin Iran sebagai bagian dari upaya diplomasi yang dilakukan Irak untuk mengurangi potensi konflik.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa hubungan Iran dan Irak memiliki nilai strategis di bidang ekonomi, politik, maupun keamanan. Menurutnya, komunikasi intensif antara kedua negara menjadi semakin penting di tengah meningkatnya dinamika geopolitik di kawasan.

Araghchi juga menilai hambatan utama dalam proses diplomasi bukan terletak pada kurangnya pihak yang bersedia menjadi mediator. Ia berpendapat perbedaan pendekatan antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang menghambat tercapainya kesepakatan.

Di sisi lain, sejumlah pejabat Iran mengungkapkan bahwa militer negara itu terus meningkatkan kesiapsiagaan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan memburuknya situasi keamanan. Persiapan tersebut dilakukan menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer apabila ketegangan terus meningkat.

Hingga saat ini, belum terdapat kesepakatan baru yang mampu mempertemukan kepentingan kedua negara. Upaya diplomasi masih terus berlangsung, sementara berbagai pihak di kawasan dan komunitas internasional berharap penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui dialog untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.